Catatan liburan Kota

Tak tau apa yang ada dibenak orang sana, pengabdian yang harus dilakukan serasa liburan yang membosankan.

Tak ada yang perlu disalahkan, semuanya telah terjadi, kita hanya perlu bercermin kemasa lalu. 2 bulan 2 hari dikota Solok menjadi pengalaman yang berharga. Tempat tinggal yang seharusnya ditanggung malah menjadi beban hidup, Rp. 1.800.000,- menjadi tanggungan kami. Padahal sebelumnya pernah diungkapkan bahwa kami dilayani dengan baik. Tapi saya sendiri tidak begitu terpukul dengan keadaan ini, bukan berarti punya banyak uang, saya pun berasal dari keluarga menengah kebawah, mungkin sudah terbiasa dengan janji-janji yang diubarkan orang-orang besar, tapi tidak tahu dengan teman-teman yang lain, tampaknya mereka sangat keberatan.

Suatu sore kami sangat panik, tiba-tiba tuan rumah meminta sewa rumah paling lambat besok pagi. Semuanya sangat kewalahan, kenapa tidak, saat itu akhir bulan. "Siapa yang punya uang dulu, nanti kita bayar bersama", semua diam termangu. Pembingbing dihubungi tak membuahkan solusi, Pak Camat dan Wako juga, mereka sedang di Padang. Kepala semakin panas. Akhirnya kami harus meminjam uang kepada teman (sungguh besar jasamu).

Sedangkan dilokasi kami tak bisa banyak berbuat, bukan berarti tak mau dan tak bisa, situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, hidup ditengah lingkungan pasar yang selalu sibuk dengan urusan dagang, pagi mereka berangkat kepasar dan malam istirahat, dan masyarakat pun mayoritas orang yang berpendidikan tinggi, kami serasa "mengajar tentara berbaris".

Kami selalu mencari kegiatan, tapi kadang kami tak dapat dukungan namun kami tetap berusaha. disenggang waktu kami menghilangkan stress dengan permainan ludo, cuma itu yang bisa mengobati kami.

Kadang kami merasa tak sukses untuk mengabdi, tapi ini tak pantas juga disebut liburan.